DIY  

Meneguhkan Kembali Wawasan Nusantara di Tengah Ancaman Disintegrasi dan Pudarnya Identitas Nasional

Oleh: Arif Lukman Hakim

Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia dengan tingkat keberagaman yang sangat tinggi, baik dari segi etnis, budaya, bahasa, agama, maupun kondisi geografis. Keberagaman ini sejak awal disadari sebagai potensi sekaligus tantangan. Oleh karena itu, para pendiri bangsa merumuskan konsep Wawasan Nusantara sebagai cara pandang bangsa Indonesia dalam melihat diri dan lingkungannya sebagai satu kesatuan yang utuh.

Namun, memasuki era globalisasi dan digitalisasi, nilai-nilai kebangsaan tersebut menghadapi ujian serius. Arus global yang begitu cepat, ditambah dengan perkembangan teknologi informasi, telah mengubah pola pikir, gaya hidup, dan orientasi nilai masyarakat. Jika tidak diimbangi dengan penguatan identitas nasional, kondisi ini berpotensi melahirkan disintegrasi sosial dan krisis jati diri bangsa. ancaman disintegrasi bangsa bukanlah suatu isu hipotetis. Berbagai konflik berlatar belakang etnis, agama, dan kepentingan politik masih muncul di sejumlah daerah.

Polarisasi politik yang tajam, maraknya ujaran kebencian di media sosial, serta penyebaran hoaks memperkeruh hubungan sosial dan melemahkan rasa kebangsaan. di sisi lain, generasi muda sebagai penerus bangsa semakin terpapar budaya global yang sering kali lebih dominan dibandingkan nilai-nilai lokal dan nasional. Fenomena ini terlihat dari menurunnya minat terhadap sejarah nasional, simbol-simbol kebangsaan, serta budaya tradisional. Identitas nasional perlahan tergeser oleh identitas global yang bersifat instan dan individualistik.

Menyebabkan ketidaksesuaian perihal esendi manusia sebagai makhluk sosial. Suatu interaksi dan komunikasi antar sesama manuisa adalah merupakan fitrah manusia itu sendiri. dalam penuliasan menejelaskan terhadap penekanan pentingnya revitalisasi Wawasan Nusantara sebagai strategi utama untnuk menghadapi ancaman disintegrasi dan pudarnya identitas nasional di era globalisasi. Revitalisasi dimaksud bukan sekadar pengulangan konsep lama, melainkan upaya aktualisasi nilai-nilai Wawasan Nusantara agar relevan dengan tantangan zaman.

Bagaimana perkembangan zaman telah cepat berlalu membuat ketidaktahuan atas budaya lokan serta warisan nenek moyang yang telah di perjuangkan di era penjajahan dulu. perlunya penekanan atas literasi atas Wawasan Nusantara harus diposisikan kembali sebagai landasan fundamental dalam berpikir dan bertindak dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Banyaknya ancaman teknologi dan budaya luar yang berupaya memadukan antara dari suatu negara di integrasikan terhadap budaya laiinya. Penagkuan atas budaya adalah suatu bentuk ancaman bangsa Indonesia.

Perkembangan teknologi yang semakin pesat pemuda lupa atas budaya dan pindah kepemilikan dan pengakuan budaya Indonesia atas budaya negara lain. pembekalan penguatan pendidikan kebangsaan. Wawasan Nusantara sebagai landasan fundamental. perlunya diinternalisasikan melalui sistem pendidikan dengan pendekatan yang kontekstual dan dialogis, bukan sekadar hafalan. Pendidikan harus mampu menumbuhkan kesadaran bahwa keberagaman adalah kekuatan bangsa, bukan sumber perpecahan.

Pengembangan ruang budaya dan sosial. Negara dan masyarakat perlu memberi ruang yang lebih luas bagi ekspresi budaya lokal sebagai bagian dari identitas nasional. Budaya tidak boleh dipandang sebagai sesuatu yang kuno, melainkan sebagai sumber nilai yang dapat berdialog dengan modernitas. pemanfaatan sumber daya manusia yang memiliki kompetensi di bidang digital dapat di kembangkan secara positif. bahwa literasi Wawasan Nusantara juga harus hadir di ruang digital. Media sosial seharusnya menjadi sarana memperkuat solidaritas nasional, bukan arena konflik dan fragmentasi.

Tanpa revitalisasi yang serius, Wawasan Nusantara hanya akan menjadi jargon normatif yang kehilangan daya ikatnya di tengah masyarakat. kehilangan sebuah budaya yang telah lahir dari bagian suatu kelompok masyarakat. Merupakan suatu anak yang lepas dari induknya. Beragam budayanya beragam bahasanya , beragam sukunya. dari Sabang hingga Merauke. kehilangan banyaknya hewan yang asli Indonesia yang di lakukan dengan cara di bunuh dan di eksplootasi kulit,sebagai estetika semata. tanpa memikirkan dampak ekosistem hutan yang ada adalah bentuk bahwa kedepannya kita tak dapat melestarikan hewan tersebut dan hanya memikirkan keuntungan pribadi.

Pemerintah perlu menjadikan revitalisasi Wawasan Nusantara sebagai agenda strategis nasional melalui kebijakan pendidikan, kebudayaan, dan literasi digital. Lembaga pendidikan, lembaga swadaya konserasi cagar alam, kebun binatang, museum, memilik peran penting dalam menanamkan nilai kebangsaan secara kreatif dan kritis. Sebagai fondasi yang nyata untuk menjaga dan melestarikan budaya, hewan, dan warisan nenek moyang. Sementara itu, masyarakat khususnya generasi muda. Sangat perlu mengambil peran sebagai agen pemersatu yang menjaga Indonesia tetap utuh dalam keberagaman.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *