Tradisi Abon-Abon Kembali Digelar di Demak, Awali Rangkaian Grebeg Besar 2025

Kabupaten Demak kembali menggelar tradisi bernilai spiritual, Prosesi Abon-Abon dari Keraton Surakarta, yang berlangsung khidmat di Pendopo Notobratan, Kadilangu. (Istimewa/Humas)

Demak, seputarpantura.com/ – Kabupaten Demak kembali menggelar tradisi bernilai spiritual, Prosesi Abon-Abon dari Keraton Surakarta, yang berlangsung khidmat di Pendopo Notobratan, Kadilangu. Kegiatan ini menjadi pembuka rangkaian Grebeg Besar Demak yang puncaknya akan dirayakan dengan penjamasan pusaka peninggalan Sunan Kalijaga pada Hari Raya Idul Adha.

Prosesi yang sarat makna budaya dan spiritual ini dihadiri oleh Plh. Bupati Demak Muhammad Badruddin, Sesepuh Ahli Waris Sunan Kalijaga H.R. Muhamad Cahyo Iman Santoso, serta Kanjeng Gusti Pangeran Haryo Adipati Dipokusumo yang mewakili Keraton Kasunanan Surakarta. Turut hadir pula jajaran pejabat pemerintah dan keluarga besar Kabupaten Demak.

Dalam sambutannya, Plh. Bupati Demak menyampaikan rasa syukur atas terselenggaranya tradisi ini dan mengapresiasi upaya pelestarian budaya yang tidak hanya memperkuat identitas daerah, tetapi juga mengingatkan masyarakat akan nilai-nilai spiritual dan sejarah penyebaran Islam di tanah Jawa.

“Tradisi ini adalah bagian dari penjamasan pusaka Kanjeng Sunan Kalijaga, yaitu Kotang Ontokusumo dan Keris Kyai Carubuk, yang menjadi puncak dari Grebeg Besar Demak. Semoga semua berjalan tertib, aman, dan tetap menjaga kesakralan serta nilai historis yang menyertainya,” ujar Badruddin.

Ia juga berharap agar tradisi ini dapat berkembang menjadi agenda budaya berskala nasional bahkan internasional, serta mampu meningkatkan potensi wisata religi di Kabupaten Demak.

Sementara itu, Sesepuh Ahli Waris Sunan Kalijaga, H.R. Muhamad Cahyo Iman Santoso, menegaskan pentingnya menjaga kesinambungan budaya dan spiritualitas yang diwariskan para Wali, khususnya Sunan Kalijaga. Menurutnya, abon-abon bukan sekadar simbol, melainkan bentuk penghormatan atas perjalanan spiritual dan perjuangan dakwah Walisongo.

“Minyak dan ramuan dari abon-abon yang dibawa masyarakat akan disatukan sebagai minyak jamas pusaka. Ini adalah bentuk kebersamaan spiritual yang sarat makna,” jelasnya.

Mewakili Keraton Kasunanan Surakarta, Kanjeng Gusti Pangeran Haryo Adipati Dipokusumo menambahkan bahwa Prosesi Abon-Abon merupakan warisan budaya yang sarat nilai Islam. Tradisi ini berakar dari pendekatan dakwah Sunan Kalijaga yang menggunakan budaya lokal seperti wayang, gamelan, dan pakaian adat sebagai sarana syiar Islam.

“Melalui budaya, Sunan Kalijaga menyampaikan ajaran Islam secara halus dan meresap ke dalam kehidupan masyarakat. Ini yang menjadi kekuatan Islam Jawa,” ujarnya.

Salah satu simbol penting dalam prosesi ini adalah penanaman pohon kelapa yang diarahkan ke barat sedikit ke utara, melambangkan keterhubungan dengan kiblat dan kehidupan yang berkesinambungan. Keraton menegaskan bahwa upacara seperti ini merupakan bentuk nyata akulturasi budaya dan agama yang telah berlangsung selama berabad-abad.

Prosesi Abon-Abon ini juga menandai penyerahan minyak jamas dan ubo rampe dari Keraton Surakarta kepada keluarga ahli waris Sunan Kalijaga di Kadilangu, yang nantinya akan digunakan dalam penjamasan pusaka Kyai Cerubuk dan Kotang Ontokusumo pada puncak Grebeg Besar Demak. (Hms)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *